FM 9.xx
Sampai bulan ini pun hujan turun tak menentu di kota Jakarta ini. Yah, cuaca memang tidak bisa ditebak. Sebulan yang lalu ( Maret ), hujan turun sangat deras. Suara petir yang demikian kencangnya membuatku terbangun. Sekelilingku masih gelap, 02.13 , jam di HP menunjukkan waktu.
Kilat yang terus berdatangan , seperti jatuh tepat di luar gorden kamarku. Disusul dengan dentuman suara petir. Daripada tidur sambil terkaget-kaget, lebih baik bangun sebentar dan menunggu hujan berhenti. Mencoba merasakan keadaan di sekitar, aku bangun dengan perlahan dan menyalakan lampu. Cahaya lampu segera menerangi, dan membuat suasana lebih baik. Kilatan cahaya, walaupun masih ada, sudah tidak terlihat lagi, kalah oleh cahaya lampu.
Keluar kamar, masih sepi, orang-orang masih tertidur. Heran juga sih, kok bisa-bisanya mereka tidak terbangun. Terpikir untuk mencari senter, jaga-jaga kalau-kalau mati lampu. Setelah mendapatkan senter, timbul pikiran iseng untuk menyalakan radio, di saat-saat seperti ini mungkin ada berita menarik, entah kecelakaan atau korstleting dan sebagainya.
Cukup sulit mencari radio saat dibutuhkan, karena aku sendiri jarang mendengarkan radio. Setelah beberapa saat kutemukan radio kecil teronggok di kolong ranjang. Ketika kunyalakan, tidak ada suara yang keluar, oh rupanya belum dicolok. Tidak ingin berlama-lama dengan perasaan bodoh, segera kucolok radio ke steker listrik. Saat dinyalakan, tetap tidak ada suara yang keluar, kucoba menggeser-geser frekuensi, yang ada hanya seperti suara desau angin. Suara hujan dan petir menggangguku untuk mendengarkan suara yang ada di radio. Krak...krak... kresek..., bunyi derak terdengar di radio. Nah ini pasti udah dapat siaran. Aku cukup maklum bila siaran radio sulit ditangkap saat cuaca seperti ini.
Terdengar lagu yang cukup familiar di telingaku. Bukan lagu pop, bukan dangdut, juga bukan lagu barat. " ibukota Priangan..... Halo-halo...." Lho kok Halo-halo Bandung... Jarang-jarang ada radio di frekuensi FM yang memutar lagu seperti ini ( lagu-lagu yang mungkin masih sering diputar di tahun 70-80an ). Suara di radio juga bukan suara yang jernih, masih ada kresek-kresek namun lagu cukup jelas terdengar.
" Pendengar budiman, ... masih menemani " terdengar suara pria pembawa acara, namun suaranya datar saja, mungkin ngantuk. Kucoba mengeraskan volume agar lebih terdengar. "masih menemani...". Ah kok diulang-ulang kata-katanya. " Siaran di tengah hujan, lagu-lagu perjuangan masih akan menemani dan diputar ". " Untuk letnan Prapto di Kalibata.... kapten Yogi di Kalibata.... An Hong di Kebun Nanas ". Hmmm kalibata, kebun nanas, mirip-mirip apa ya?
" Akan diputarkan lagu Sepasang Mata Bola,...semoga terhibur "
Lagu Sepasang Mata Bola mulai melantun. Kulihat di penunjuk frekuensi radio FM 9.xx, ah ini kan biasanya tempat siaran radio yang cukup populer. Sekarang bukan sedang 17 Agustusan, kok aneh ya. Agak haus, aku keluar sebentar mengambil air minum.
Ketika kembali, siaran radio kembali tidak jelas tertangkap. Hanya sepotong-sepotong " semoga... yang sudah berpulang lekas berpulang....., kalau belum... bisa tetap bersama kami " terdengar suara pembawa acara datar dan putus-putus. Rasa kantuk mulai menyerang, dan bersamaan dengan itu hujan pun mulai mereda. Tanpa berpikir panjang radio kumatikan, dan segera tidur.
Keesokan harinya aku membicarakan masalah hujan besar dengan teman-teman lain di kantor. Namun samasekali tidak kusinggung-singgung mengenai siaran radio. Tanpa sengaja telingaku menangkap lagu grup band Indonesia yang sedang naik daun. " Bagus juga nih lagu, radio apa nih ?" tanyaku. "9.xxFM " jawab Dewi si empunya radio. " Wah kebetulan, semalam juga saya dengar siarannya , hebat juga jam 2 pagi masih siaran " kataku. " Ah masak sih? " Dewi tidak percaya. " Mana ada, mereka jam satuan juga sudah tidak siaran " kata Dewi lagi.
Aku tidak mau ambil pusing dan mulai melanjutkan pekerjaan. Sepulang kantor, aku sempat berbincang-bincang dengan Pak Karto, cleaning service. Ia bercerita mengenai hujan semalam. Saat kusinggung mengenai siaran radio yang kudengar , Pak Karto hanya tersenyum sebentar. " Wah ndak semua orang bisa lo mas Pram " katanya. "Bisa apa , Pak?" tanyaku. "Ya itu tadi, dengerin radio arwah " jelas Pak Karto.
Agak terkejut juga mendengar penuturan Pak Karto. Antara percaya dan tidak percaya, terkadang malam-malam kalau iseng aku mencari-cari siaran radio tersebut, namun jarang sekali ketemu.
Mungkin Anda termasuk yang beruntung?
Sampai bulan ini pun hujan turun tak menentu di kota Jakarta ini. Yah, cuaca memang tidak bisa ditebak. Sebulan yang lalu ( Maret ), hujan turun sangat deras. Suara petir yang demikian kencangnya membuatku terbangun. Sekelilingku masih gelap, 02.13 , jam di HP menunjukkan waktu.
Kilat yang terus berdatangan , seperti jatuh tepat di luar gorden kamarku. Disusul dengan dentuman suara petir. Daripada tidur sambil terkaget-kaget, lebih baik bangun sebentar dan menunggu hujan berhenti. Mencoba merasakan keadaan di sekitar, aku bangun dengan perlahan dan menyalakan lampu. Cahaya lampu segera menerangi, dan membuat suasana lebih baik. Kilatan cahaya, walaupun masih ada, sudah tidak terlihat lagi, kalah oleh cahaya lampu.
Keluar kamar, masih sepi, orang-orang masih tertidur. Heran juga sih, kok bisa-bisanya mereka tidak terbangun. Terpikir untuk mencari senter, jaga-jaga kalau-kalau mati lampu. Setelah mendapatkan senter, timbul pikiran iseng untuk menyalakan radio, di saat-saat seperti ini mungkin ada berita menarik, entah kecelakaan atau korstleting dan sebagainya.
Cukup sulit mencari radio saat dibutuhkan, karena aku sendiri jarang mendengarkan radio. Setelah beberapa saat kutemukan radio kecil teronggok di kolong ranjang. Ketika kunyalakan, tidak ada suara yang keluar, oh rupanya belum dicolok. Tidak ingin berlama-lama dengan perasaan bodoh, segera kucolok radio ke steker listrik. Saat dinyalakan, tetap tidak ada suara yang keluar, kucoba menggeser-geser frekuensi, yang ada hanya seperti suara desau angin. Suara hujan dan petir menggangguku untuk mendengarkan suara yang ada di radio. Krak...krak... kresek..., bunyi derak terdengar di radio. Nah ini pasti udah dapat siaran. Aku cukup maklum bila siaran radio sulit ditangkap saat cuaca seperti ini.
Terdengar lagu yang cukup familiar di telingaku. Bukan lagu pop, bukan dangdut, juga bukan lagu barat. " ibukota Priangan..... Halo-halo...." Lho kok Halo-halo Bandung... Jarang-jarang ada radio di frekuensi FM yang memutar lagu seperti ini ( lagu-lagu yang mungkin masih sering diputar di tahun 70-80an ). Suara di radio juga bukan suara yang jernih, masih ada kresek-kresek namun lagu cukup jelas terdengar.
" Pendengar budiman, ... masih menemani " terdengar suara pria pembawa acara, namun suaranya datar saja, mungkin ngantuk. Kucoba mengeraskan volume agar lebih terdengar. "masih menemani...". Ah kok diulang-ulang kata-katanya. " Siaran di tengah hujan, lagu-lagu perjuangan masih akan menemani dan diputar ". " Untuk letnan Prapto di Kalibata.... kapten Yogi di Kalibata.... An Hong di Kebun Nanas ". Hmmm kalibata, kebun nanas, mirip-mirip apa ya?
" Akan diputarkan lagu Sepasang Mata Bola,...semoga terhibur "
Lagu Sepasang Mata Bola mulai melantun. Kulihat di penunjuk frekuensi radio FM 9.xx, ah ini kan biasanya tempat siaran radio yang cukup populer. Sekarang bukan sedang 17 Agustusan, kok aneh ya. Agak haus, aku keluar sebentar mengambil air minum.
Ketika kembali, siaran radio kembali tidak jelas tertangkap. Hanya sepotong-sepotong " semoga... yang sudah berpulang lekas berpulang....., kalau belum... bisa tetap bersama kami " terdengar suara pembawa acara datar dan putus-putus. Rasa kantuk mulai menyerang, dan bersamaan dengan itu hujan pun mulai mereda. Tanpa berpikir panjang radio kumatikan, dan segera tidur.
Keesokan harinya aku membicarakan masalah hujan besar dengan teman-teman lain di kantor. Namun samasekali tidak kusinggung-singgung mengenai siaran radio. Tanpa sengaja telingaku menangkap lagu grup band Indonesia yang sedang naik daun. " Bagus juga nih lagu, radio apa nih ?" tanyaku. "9.xxFM " jawab Dewi si empunya radio. " Wah kebetulan, semalam juga saya dengar siarannya , hebat juga jam 2 pagi masih siaran " kataku. " Ah masak sih? " Dewi tidak percaya. " Mana ada, mereka jam satuan juga sudah tidak siaran " kata Dewi lagi.
Aku tidak mau ambil pusing dan mulai melanjutkan pekerjaan. Sepulang kantor, aku sempat berbincang-bincang dengan Pak Karto, cleaning service. Ia bercerita mengenai hujan semalam. Saat kusinggung mengenai siaran radio yang kudengar , Pak Karto hanya tersenyum sebentar. " Wah ndak semua orang bisa lo mas Pram " katanya. "Bisa apa , Pak?" tanyaku. "Ya itu tadi, dengerin radio arwah " jelas Pak Karto.
Agak terkejut juga mendengar penuturan Pak Karto. Antara percaya dan tidak percaya, terkadang malam-malam kalau iseng aku mencari-cari siaran radio tersebut, namun jarang sekali ketemu.
Mungkin Anda termasuk yang beruntung?

1 Comments:
klo yg ini, g jadi inget dulu di radio prambors juga ada gosip penyiar yg suka muterin lagu babe jam 2 malm
pdhl kan prambors selese siaran jam 1 malem
hiiii
Post a Comment
<< Home