Lukisan
Mungkin sudah sering diceritakan pengalaman aneh dengan lukisan. Dan tulisan ini akan menambah jumlahnya. Kejadiannya bukan di museum atau di rumah tua dengan lukisan tokoh-tokoh berwajah kaku dan dingin. Melainkan di sebuah mal. Ya betul sekali mal, namun mal yang ini bukanlah mal yang ramai dikunjungi orang.
Letaknya di daerah Jakarta Utara dan keberadaannya sempat menjadi polemik, karena tanah dimana mal tersebut berada merupakan tanah sengketa. Warga tidak merestui kehadiran mal di lingkungan perumahan mereka. Hal-hal ini yang menyebabkan sepinya mal tersebut hingga sekarang. Namun demikian pada event-event olahraga mal ini akan ramai dikunjungi orang.
Siang itu saya dan seorang teman datang ke mal tersebut ( sebut saja mal S ) untuk mewawancarai seorang atlet basket yang tinggal di asrama di kompleks mal S. Kami masuk dari salah satu pintu mal yang bersebelahan dengan galeri lukisan. Tetapi galeri tersebut kosong dan sepertinya tutup. Beberapa lukisan dapat terlihat dari dinding kaca. " Masih sepi saja mal ini " kata Deden ( bukan nama sebenarnya ). " Iya , tidak laku " kataku sambil melihat lukisan dari dinding kaca. " Lumayan nih " kataku sambil menunjuk sebuah lukisan bergambar seorang wanita muda. Wanita tersebut memakai pakaian sederhana dan terlihat sedang duduk di sebuah taman. Senyumnya sangat manis. Ia terlihat seperti menatap kami berdua. " Iya seperti betulan " jawab Deden. Kami tidak berlama-lama di dekat sana dan segera berjalan ke salah satu restoran tempat kami akan bertemu si atlet yang akan diwawancarai.
Wawancara berlangsung cukup lama, namun dalam suasana yang ceria. Si atlet basket banyak menceritakan mengenai kehidupannya di asrama. Akhirnya waktu harus memisahkan kami, karena ia harus pergi untuk berlatih. Saya dan Deden pun harus segera kembali ke kantor kami. Kami berjalan menuju pintu tempat kami masuk sambil membicarakan si atlet basket.
Rupanya kami melewati galeri lukisan yang tadi. Tampak si wanita dalam lukisan masih menatap kami. " Beli nih kalau ada uang ", kataku. Deden hanya tersenyum. Ia berhenti dan menatap lukisan tersebut. Aku segera menariknya agar segera pulang. Tetapi ia tidak bergerak. " Eh, kita harus cepat kembali " kataku mengingatkan. Lagi-lagi ia hanya terdiam. " sebentar, kamu lihat tidak tadi ia tersenyum " kata Deden. " Ya daritadi juga lukisannya tersenyum " jawabku. Aku jadi ikut-ikutan memperhatikan lukisan. Ah, sama saja seperti tadi.
Kedipan mata, ya mata di lukisan itu terlihat seperti berkedip. " Kamu lihat " kataku, Deden hanya terdiam dan menganggup. " Seperti hidup " kata Deden. Aku juga melihat senyum yang berbeda dari yang tadi. Apakah kami salah lihat? Sebuah tepukan di bahu mengagetkanku, " Kalau suka dibeli saja ", seorang berpakaian cleaning service berkata. " Banyak yang lebih bagus lo " katanya lagi. " Bagus "
" Ah belum ada uang mas " kata Deden. Kami cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Lukisan merupakan cerminan dari jiwa, bisa menjadi curahan perasaan. Seperti legenda Pygmalion, patung yang hidup. Demikian juga dengan lukisan. Mungkin terdapat kehidupan di dalamnya.
Mungkin sudah sering diceritakan pengalaman aneh dengan lukisan. Dan tulisan ini akan menambah jumlahnya. Kejadiannya bukan di museum atau di rumah tua dengan lukisan tokoh-tokoh berwajah kaku dan dingin. Melainkan di sebuah mal. Ya betul sekali mal, namun mal yang ini bukanlah mal yang ramai dikunjungi orang.
Letaknya di daerah Jakarta Utara dan keberadaannya sempat menjadi polemik, karena tanah dimana mal tersebut berada merupakan tanah sengketa. Warga tidak merestui kehadiran mal di lingkungan perumahan mereka. Hal-hal ini yang menyebabkan sepinya mal tersebut hingga sekarang. Namun demikian pada event-event olahraga mal ini akan ramai dikunjungi orang.
Siang itu saya dan seorang teman datang ke mal tersebut ( sebut saja mal S ) untuk mewawancarai seorang atlet basket yang tinggal di asrama di kompleks mal S. Kami masuk dari salah satu pintu mal yang bersebelahan dengan galeri lukisan. Tetapi galeri tersebut kosong dan sepertinya tutup. Beberapa lukisan dapat terlihat dari dinding kaca. " Masih sepi saja mal ini " kata Deden ( bukan nama sebenarnya ). " Iya , tidak laku " kataku sambil melihat lukisan dari dinding kaca. " Lumayan nih " kataku sambil menunjuk sebuah lukisan bergambar seorang wanita muda. Wanita tersebut memakai pakaian sederhana dan terlihat sedang duduk di sebuah taman. Senyumnya sangat manis. Ia terlihat seperti menatap kami berdua. " Iya seperti betulan " jawab Deden. Kami tidak berlama-lama di dekat sana dan segera berjalan ke salah satu restoran tempat kami akan bertemu si atlet yang akan diwawancarai.
Wawancara berlangsung cukup lama, namun dalam suasana yang ceria. Si atlet basket banyak menceritakan mengenai kehidupannya di asrama. Akhirnya waktu harus memisahkan kami, karena ia harus pergi untuk berlatih. Saya dan Deden pun harus segera kembali ke kantor kami. Kami berjalan menuju pintu tempat kami masuk sambil membicarakan si atlet basket.
Rupanya kami melewati galeri lukisan yang tadi. Tampak si wanita dalam lukisan masih menatap kami. " Beli nih kalau ada uang ", kataku. Deden hanya tersenyum. Ia berhenti dan menatap lukisan tersebut. Aku segera menariknya agar segera pulang. Tetapi ia tidak bergerak. " Eh, kita harus cepat kembali " kataku mengingatkan. Lagi-lagi ia hanya terdiam. " sebentar, kamu lihat tidak tadi ia tersenyum " kata Deden. " Ya daritadi juga lukisannya tersenyum " jawabku. Aku jadi ikut-ikutan memperhatikan lukisan. Ah, sama saja seperti tadi.
Kedipan mata, ya mata di lukisan itu terlihat seperti berkedip. " Kamu lihat " kataku, Deden hanya terdiam dan menganggup. " Seperti hidup " kata Deden. Aku juga melihat senyum yang berbeda dari yang tadi. Apakah kami salah lihat? Sebuah tepukan di bahu mengagetkanku, " Kalau suka dibeli saja ", seorang berpakaian cleaning service berkata. " Banyak yang lebih bagus lo " katanya lagi. " Bagus "
" Ah belum ada uang mas " kata Deden. Kami cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Lukisan merupakan cerminan dari jiwa, bisa menjadi curahan perasaan. Seperti legenda Pygmalion, patung yang hidup. Demikian juga dengan lukisan. Mungkin terdapat kehidupan di dalamnya.
