Batas Dunia

Ada batas antara laut dan darat Ada batas antara bumi dan langit Di perbatasan semua akan bertemu....

Friday, April 28, 2006

Lukisan

Mungkin sudah sering diceritakan pengalaman aneh dengan lukisan. Dan tulisan ini akan menambah jumlahnya. Kejadiannya bukan di museum atau di rumah tua dengan lukisan tokoh-tokoh berwajah kaku dan dingin. Melainkan di sebuah mal. Ya betul sekali mal, namun mal yang ini bukanlah mal yang ramai dikunjungi orang.

Letaknya di daerah Jakarta Utara dan keberadaannya sempat menjadi polemik, karena tanah dimana mal tersebut berada merupakan tanah sengketa. Warga tidak merestui kehadiran mal di lingkungan perumahan mereka. Hal-hal ini yang menyebabkan sepinya mal tersebut hingga sekarang. Namun demikian pada event-event olahraga mal ini akan ramai dikunjungi orang.

Siang itu saya dan seorang teman datang ke mal tersebut ( sebut saja mal S ) untuk mewawancarai seorang atlet basket yang tinggal di asrama di kompleks mal S. Kami masuk dari salah satu pintu mal yang bersebelahan dengan galeri lukisan. Tetapi galeri tersebut kosong dan sepertinya tutup. Beberapa lukisan dapat terlihat dari dinding kaca. " Masih sepi saja mal ini " kata Deden ( bukan nama sebenarnya ). " Iya , tidak laku " kataku sambil melihat lukisan dari dinding kaca. " Lumayan nih " kataku sambil menunjuk sebuah lukisan bergambar seorang wanita muda. Wanita tersebut memakai pakaian sederhana dan terlihat sedang duduk di sebuah taman. Senyumnya sangat manis. Ia terlihat seperti menatap kami berdua. " Iya seperti betulan " jawab Deden. Kami tidak berlama-lama di dekat sana dan segera berjalan ke salah satu restoran tempat kami akan bertemu si atlet yang akan diwawancarai.

Wawancara berlangsung cukup lama, namun dalam suasana yang ceria. Si atlet basket banyak menceritakan mengenai kehidupannya di asrama. Akhirnya waktu harus memisahkan kami, karena ia harus pergi untuk berlatih. Saya dan Deden pun harus segera kembali ke kantor kami. Kami berjalan menuju pintu tempat kami masuk sambil membicarakan si atlet basket.

Rupanya kami melewati galeri lukisan yang tadi. Tampak si wanita dalam lukisan masih menatap kami. " Beli nih kalau ada uang ", kataku. Deden hanya tersenyum. Ia berhenti dan menatap lukisan tersebut. Aku segera menariknya agar segera pulang. Tetapi ia tidak bergerak. " Eh, kita harus cepat kembali " kataku mengingatkan. Lagi-lagi ia hanya terdiam. " sebentar, kamu lihat tidak tadi ia tersenyum " kata Deden. " Ya daritadi juga lukisannya tersenyum " jawabku. Aku jadi ikut-ikutan memperhatikan lukisan. Ah, sama saja seperti tadi.

Kedipan mata, ya mata di lukisan itu terlihat seperti berkedip. " Kamu lihat " kataku, Deden hanya terdiam dan menganggup. " Seperti hidup " kata Deden. Aku juga melihat senyum yang berbeda dari yang tadi. Apakah kami salah lihat? Sebuah tepukan di bahu mengagetkanku, " Kalau suka dibeli saja ", seorang berpakaian cleaning service berkata. " Banyak yang lebih bagus lo " katanya lagi. " Bagus "

" Ah belum ada uang mas " kata Deden. Kami cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Lukisan merupakan cerminan dari jiwa, bisa menjadi curahan perasaan. Seperti legenda Pygmalion, patung yang hidup. Demikian juga dengan lukisan. Mungkin terdapat kehidupan di dalamnya.

Wednesday, April 26, 2006

Sighting I

Sebagai seorang kakak yang baik, sudah selayaknya memperhatikan kehidupan adik. Hari ini, sama seperti minggu yang lalu, aku pergi ke RSXX ( salah satu rumah sakit besar di Jakarta ) untuk mengantar makan malam untuk adikku yang sedang tugas jaga disana. Ia diwajibkan untuk menjadi dokter jaga untuk melengkapi tugas kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas X. Sebenarnya bisa saja ia membeli makanan sendiri di sana atau di luarnya, namun dasar ibu yang terlalu khawatir sampai menyiapkan makanan.
" Thank you nih, udah dianterin " kata adikku seraya mengambil bungkusan makanan. " Jangan sampai tidak dimakan lo ", pesanku. " Beres deh, nanti juga habis ", jawabnya lagi. Kami hanya berbincang-bincang sebentar, setelah itu ia harus kembali pada tugasnya. Aku pun berniat untuk langsung pulang.
Di lorong-lorong rumah sakit masih terdapat beberapa orang yang terjaga. Mereka yang sedang menunggui kenalan atau keluarganya. Sudah banyak kudengar kabar tentang hal-hal mistis di rumah sakit ini ( dan di rumah sakit lain tentunya ), tentang "dokter-dokter Belanda" yang suka berlalu-lalang di malam hari, sampai munculnya foto menghebohkan berupa gambar anak perempuan memegang boneka ( yang belakangan diketahui hanya hasil rekayasa ahli komputer ). Tapi saat itu tidak ada perasaan gentar atau takut, karena suasana masih cukup terang dan masih ada orang-orang lain.
Tanpa terasa aku sudah berada di tempat parkir. Mobil Kijang milik ayah sepertinya sudah tidak sabar untuk pulang. Sudah pukul 22.35. Baru saja pintu mobil akan dibuka, dari belakang terdengar suara yang cukup mengejutkan " Mas lihat anak saya tidak ?" seorang Bapak bertanya. " Tidak " jawabku singkat. " Wah bagaimana ya, sudah saya cari-cari tidak ketemu " kata si Bapak lagi dengan wajah bingung. Cukup kasihan juga melihatnya. " Memang seperti apa anaknya ?" tanyaku, " Kecil, kira-kira segini tingginya " jawabnya sambil tangannya membuat batas antara tanah dan pinggangnya.
" Pak, Bapak! " terdengar suara anak kecil memanggil. " Itu dia anaknya , Pak ! " kataku sambil menunjuk seorang anak kecil yang berdiri di dekat salah satu pilar bangunan rumah sakit. " Makasih ya mas ! " kata Bapak tersebut sambil berlari mengejar anaknya. Perasaanku cukup lega dan senang bisa membantunya. Bapak tersebut kemudian menghampiri anaknya dan menggandengnya, ia sempat menengok ke arahku dan melambaikan tangan sebagai tanda terima kasih. Kemudian ia berjalan ke arah pilar bangunan dan menghilang ! ( entah menghilang atau menembus ke dalam pilar ).
Seketika itu juga tubuhku merinding. Terkejut dengan peristiwa itu, aku segera melangkah kembali ke dalam rumah sakit, dan berusaha menghubungi adikku lewat HP. Ketika bertemu kembali dengannya, ia agak kesal ( mungkin karena sedang tugas ). Namun kekesalannya berubah menjadi derai tawa ketika kuceritakan pengalamanku. " Ah itu sih sudah biasa, banyak dokter , supir atau siapa aja yang pernah dijahili disini " katanya sambil tersenyum. Ia menambahkan bahwa ketika pertama kali "dijahili" ( melihat anak kecil di atas pohon pada jam 3 pagi ) ia juga shock.

Monday, April 24, 2006

Cubicle

Jakarta, makin malam makin semarak. Beda dengan masa kecil di pinggiran Semarang dulu. Malam itu aku menyempatkan diri ke salah satu gedung perkantoran di daerah Semanggi. Sebagai orang yang tidak punya mobil, alat transportasi baru di Jakarta, TransJakarta cukup mempermudahku mencapai kawasan Semanggi.

Gedung perkantoran yang cukup tinggi berdiri megah di hadapanku. Cukup bagus walau agak gelap, maklum selepas krismon, para pengelola gedung berlomba-lomba untuk menghemat listrik, diantaranya dengan mematikan sebagian lampu yang tidak terpakai di malam hari. " Heh bengong aja, yok jalan! " suara yang sudah kukenal berseru. Sosok pria kurus berkacamata sudah berada di sampingku. Jeffri ( 27 , bukan nama sebenarnya ), bekerja di gedung tersebut sebagai akuntan. Hari ini kami berencana berjalan-jalan bersama beberapa teman lama. " wah eksekutif muda udah nggak sabar nih " candaku. " Iya , katanya si Jono , Tinus dan Robi udah pada nyampe tuh " ujar Jeffri sambil terburu-buru melangkah ke tempat parkir.

Ah dasar orang kantoran, tidak bisa santai sedikit. Terburu-buru terus bawaannya. Aku segera bergegas mengikuti langkahnya , menuju mobil yang ia parkir. Bunyi tuit-tuit dari alarm mobil terdengar jelas dari salah satu Kijang yang diparkir. "duh ada yang lupa " Jeffri berseru sambil menepuk keningnya. " Apaan sih?" tanyaku. " Flashdisk, lupa dicabut , mana ada kerjaan disana " jawabnya, " 'ta ambil dulu deh " lanjutnya lagi, " kamu ikut aja, daripada bengong "

Benar juga sih, daripada bengong di tempat parkir , lebih baik ikut dia. Sekalian lihat-lihat. Kami berdua segera memasuki gedung. Jeffri hanya tersenyum sedikit kepada satpam di lobby, sambil berkata "ada yang ketinggalan ". Ting! lift di dekat kami berbunyi, kebetulan sekali, lagi buru-buru, liftnya cepat datang juga. Di dalam lift Jeffri menekan angka 3. Tempat kerjanya tidak terlalu tinggi rupanya.

Ting! kami sudah di lantai 3. "Luas juga nih" kataku melihat seisi lantai 3 yang diisi dengan partisi-partisi membentuk kotak-kotak kecil. Di dalam masing-masing terdapat berbagai barang, kertas-kertas, komputer, dan sebagainya. " Iya nih, tapi bosen di kotak terus pengen dapet ruangan hahahaha" kata Jeffri. Ia berjalan dengan cepat ke cubiclenya, mengeluarkan kunci dan membuka salah satu partisi.

Aku masih melihat-lihat sekelilingku, tiba-tiba bau tidak sedap tercium di hidungku. Kantor besar begini, jorok juga ya. Bau yang tercium seperti bau bangkai. " Jeff , kantormu bau banget nih " kataku. Jeffri tidak menanggapi, ia sedang sibuk mencari Flashdisknya. Arah bau tidak sedap rupanya berasal dari salah satu cubicle. "Jeff, ada tikus mati kali nih! " seruku. Jeffri yang sudah berada di sampingku lagi mencoba mengendus-endus. " Ada-ada saja, nggak kecium apa-apa tuh!" jawabnya. " Dari sini nih " aku menunjuk cubicle tempat bau itu berasal, baunya semakin menyengat saja. " Ini sih tempat si Anton ( bukan nama sebenarnya ) , orangnya lagi tugas di luar kota, sudah tugas dari minggu lalu , ya sudah besok 'ta bilang sama cleaning service " jelasnya. Dari ekspresi wajahnya, Jeffri sepertinya masih meragukan keberadaan bau yang tercium olehku. Ketika bertemu lagi dengan satpam di lantai bawah pun, ia tidak menceritakan perihal bau itu.

Tanpa buang-buang waktu kami segera meluncur ke salah satu restoran di kawasan Kota. Bertemu dengan teman-teman lama, kami berbagi banyak cerita, sejak dari Semarang sampai di Jakarta, Jono sudah menjadi wartawan di salah satu media ibukota, Tinus bekerja di perusahaan swasta di bidang periklanan, Robi berwirausaha, ntah apa usahanya, katanya berhubungan dengan internet. Malam yang menyenangkan, waktu berjalan dengan cepat.

Pagi hari aku terbangun dengan berita mengejutkan dari pesan singkat di HP
"Anton meninggal semalam, kecelakaan mobil , dalam perjalanan ke Jakarta "

Membalas dengan ucapan turut berdukacita, aku agak merinding mengingat pengalaman dekat cubicle semalam.

Sunday, April 23, 2006

FM 9.xx

Sampai bulan ini pun hujan turun tak menentu di kota Jakarta ini. Yah, cuaca memang tidak bisa ditebak. Sebulan yang lalu ( Maret ), hujan turun sangat deras. Suara petir yang demikian kencangnya membuatku terbangun. Sekelilingku masih gelap, 02.13 , jam di HP menunjukkan waktu.

Kilat yang terus berdatangan , seperti jatuh tepat di luar gorden kamarku. Disusul dengan dentuman suara petir. Daripada tidur sambil terkaget-kaget, lebih baik bangun sebentar dan menunggu hujan berhenti. Mencoba merasakan keadaan di sekitar, aku bangun dengan perlahan dan menyalakan lampu. Cahaya lampu segera menerangi, dan membuat suasana lebih baik. Kilatan cahaya, walaupun masih ada, sudah tidak terlihat lagi, kalah oleh cahaya lampu.

Keluar kamar, masih sepi, orang-orang masih tertidur. Heran juga sih, kok bisa-bisanya mereka tidak terbangun. Terpikir untuk mencari senter, jaga-jaga kalau-kalau mati lampu. Setelah mendapatkan senter, timbul pikiran iseng untuk menyalakan radio, di saat-saat seperti ini mungkin ada berita menarik, entah kecelakaan atau korstleting dan sebagainya.

Cukup sulit mencari radio saat dibutuhkan, karena aku sendiri jarang mendengarkan radio. Setelah beberapa saat kutemukan radio kecil teronggok di kolong ranjang. Ketika kunyalakan, tidak ada suara yang keluar, oh rupanya belum dicolok. Tidak ingin berlama-lama dengan perasaan bodoh, segera kucolok radio ke steker listrik. Saat dinyalakan, tetap tidak ada suara yang keluar, kucoba menggeser-geser frekuensi, yang ada hanya seperti suara desau angin. Suara hujan dan petir menggangguku untuk mendengarkan suara yang ada di radio. Krak...krak... kresek..., bunyi derak terdengar di radio. Nah ini pasti udah dapat siaran. Aku cukup maklum bila siaran radio sulit ditangkap saat cuaca seperti ini.

Terdengar lagu yang cukup familiar di telingaku. Bukan lagu pop, bukan dangdut, juga bukan lagu barat. " ibukota Priangan..... Halo-halo...." Lho kok Halo-halo Bandung... Jarang-jarang ada radio di frekuensi FM yang memutar lagu seperti ini ( lagu-lagu yang mungkin masih sering diputar di tahun 70-80an ). Suara di radio juga bukan suara yang jernih, masih ada kresek-kresek namun lagu cukup jelas terdengar.

" Pendengar budiman, ... masih menemani " terdengar suara pria pembawa acara, namun suaranya datar saja, mungkin ngantuk. Kucoba mengeraskan volume agar lebih terdengar. "masih menemani...". Ah kok diulang-ulang kata-katanya. " Siaran di tengah hujan, lagu-lagu perjuangan masih akan menemani dan diputar ". " Untuk letnan Prapto di Kalibata.... kapten Yogi di Kalibata.... An Hong di Kebun Nanas ". Hmmm kalibata, kebun nanas, mirip-mirip apa ya?
" Akan diputarkan lagu Sepasang Mata Bola,...semoga terhibur "
Lagu Sepasang Mata Bola mulai melantun. Kulihat di penunjuk frekuensi radio FM 9.xx, ah ini kan biasanya tempat siaran radio yang cukup populer. Sekarang bukan sedang 17 Agustusan, kok aneh ya. Agak haus, aku keluar sebentar mengambil air minum.

Ketika kembali, siaran radio kembali tidak jelas tertangkap. Hanya sepotong-sepotong " semoga... yang sudah berpulang lekas berpulang....., kalau belum... bisa tetap bersama kami " terdengar suara pembawa acara datar dan putus-putus. Rasa kantuk mulai menyerang, dan bersamaan dengan itu hujan pun mulai mereda. Tanpa berpikir panjang radio kumatikan, dan segera tidur.

Keesokan harinya aku membicarakan masalah hujan besar dengan teman-teman lain di kantor. Namun samasekali tidak kusinggung-singgung mengenai siaran radio. Tanpa sengaja telingaku menangkap lagu grup band Indonesia yang sedang naik daun. " Bagus juga nih lagu, radio apa nih ?" tanyaku. "9.xxFM " jawab Dewi si empunya radio. " Wah kebetulan, semalam juga saya dengar siarannya , hebat juga jam 2 pagi masih siaran " kataku. " Ah masak sih? " Dewi tidak percaya. " Mana ada, mereka jam satuan juga sudah tidak siaran " kata Dewi lagi.

Aku tidak mau ambil pusing dan mulai melanjutkan pekerjaan. Sepulang kantor, aku sempat berbincang-bincang dengan Pak Karto, cleaning service. Ia bercerita mengenai hujan semalam. Saat kusinggung mengenai siaran radio yang kudengar , Pak Karto hanya tersenyum sebentar. " Wah ndak semua orang bisa lo mas Pram " katanya. "Bisa apa , Pak?" tanyaku. "Ya itu tadi, dengerin radio arwah " jelas Pak Karto.

Agak terkejut juga mendengar penuturan Pak Karto. Antara percaya dan tidak percaya, terkadang malam-malam kalau iseng aku mencari-cari siaran radio tersebut, namun jarang sekali ketemu.

Mungkin Anda termasuk yang beruntung?